Catatan dari Dublin: Menginap di Backpacker Hostel dengan Anak Kecil, Yay or Nay?

Karena si bocah sekarang usianya sudah tujuh tahun, coba backpacker hostel yukkkksss. Alasannya, selain bisa lebih irit, juga karena ingin mengajak menginap di tempat dengan suasana yang berbeda.  Tadinya sih ragu-ragu juga karena takut anak kurang nyaman karena fasilitas akomodasi jenis ini tentu saja beda dengan hotel. Tapi segala kekurangan yang dimiliki hostel ternyata bisa disiasati, kok. Jadi, pengalaman pertama bermalam di backpacker hostel di kota Dublin malah jadi pengalaman seru buat si bocah yeayyy!

Langkah pertama saat mencari, tentu saja cari hostel yang family friendly. Memang sih, kita harus mau rajin membaca-baca review. Review ini sangat membantu kita untuk mengambil keputusan. Akhirnya, kami pilih Four Court Hostel yang letaknya menghadap sungai Liffey, sungai yang mengalir melalui jantung kota Dublin. Lokasinya strategis jadi bisa hanya berjalan kaki ke berbagai tempat favorit di Dublin. Ini salah satu kelebihan backpacker hostel juga. Biasanya lokasinya di pusat kota. Kalau dibandingkan dengan harga hotel di pusat kota, tentu saja bedanya jauh.

Kondisi bangunan hostel yang kami pilih ini lumayan tua tapi cukup terawat. Keamanan hostel juga cukup diperhatikan karena pintu depan selalu dikunci dan tamu yang mau masuk harus minta dibukakan pintu lewat interkom. Waktu check-in, kami disambut resepsionis laki-laki dengan rambut dan jenggot panjang yang diikat dengan ikat rambut warna warni :)) Tapi ia melayani kami dengan santai tapi sopan, penuh senyum, dan ramah juga kepada si anak kecil.

Tipe kamar di backpacker hostel biasanya tipe dorm room. Satu kamar minimal diisi empat orang. Ada juga kamar untuk delapan orang dan dua belas orang. Enggak mungkin sih bawa anak usia 7 tahun untuk tidur sekamar dengan orang yang tidak dikenal. Bisa-bisa si anak susah tidur. Hostel yang family friendly biasanya juga menyediakan private room. Walaupun ada private room, kami mencari-cari private room yang tipe tempat tidurnya bunk bed juga, soalnya sepertinya kurang afdol ya kalau tidur di backpacker hostel tapi tempat tidurnya bukan bunk bed. Justru pengalaman tidur bareng-bareng di bunk bed yang ingin kami cari juga. Akhirnya kami dapat private room dengan empat tempat tidur (dua bunk bed) dan ensuite bathroom (kamar mandi di dalam).

Namanya juga backpacker hostel yaaaaa. Sebagian besar tamunya adalah orang-orang muda yang menginap serombongan. Jadi mereka biasanya memanfaatkan communal space yang ada untuk ngobrol dan bersosialisasi. Alhasil suara bising tidak dapat dihindarkan. Mereka juga suka mondar mandir keluar masuk kamar sampai larut malam dan karena kondisi bangunan hostel kurang sound-proof, suara-suara dari luar terdengar banget. Solusinya, bawa aja earplug untuk jaga-jaga. Kalau sampai anak tidak bisa tidur, ear plug bisa membantu. Tapi di pengalaman kami sih, si bocah tidur aja bablas, enggak kebangun sama sekali sampai pagi padahal suara orang mondar mandir kedengeran banget :))

Four Court Hostel ini menyediakan sarapan (sudah termasuk di dalam harga kamar), tapi sarapannya standar aja hanya ada roti plus dua jenis selai dan mentega, tiga jenis cereal, kopi, teh dan beberapa jenis biskuit. Setiap tamu punya kewajiban untuk cuci piring sendiri setelah sarapan. Nah, saya sih kayaknya kurang yakin gitu yaaaa dengan kebersihan peralatan makan yang dicuci para tamu. Jadi saya pikir lebih baik sih untuk anak pakai peralatan makan sendiri aja daripada kenapa-kenapa nanti. Tapi setelah selesai makan, si bocah ikut cuci piring sendiri juga, sama seperti tamu-tamu yang lain :)) Kalau mau menginap long-stay, hostel ini menyediakan dapur, jadi bisa masak juga. Malah dapurnya buka sampai jam 11 malam.

 

Salau satu hal positif menginap di hostel adalah di kamar tidak ada televisi. Kebetulan kami juga tidak punya tablet atau iPad jadi betul-betul zero screen time. Kalau ada waktu santai, kita ke communal space. Di hostel ini ada movie room serta book corner dengan buku-buku yang bisa dipinjam tamu. Buku anak juga ada. Walaupun tidak banyak tapi lumayan juga untuk anak baca-baca. Hal positif lain adalah kesempatan anak untuk observasi melihat berbagai macam orang berbicara dalam berbagai bahasa. Tapi ada juga sedikit kekurangannya, sih. Karena banyak orang ya ada aja yang tiba-tiba mengumpat dengan swear words. Kalau sadar ada anak kecil, ada yang langsung meminta maaf tapi yang cuek juga ada. Tapi semuanya masih dalam tingkatan yang menurut kami wajar saja karena si anak juga sebetulnya sudah tahu itu swear words. Dan yang penting juga dia tahu kalau di rumah, kami menghindari penggunaan bahasa seperti itu.

Karena pengalaman pertama ini menyenangkan, rasanya untuk perjalanan berikutnya kami jadi lebih percaya diri untuk membawa anak menginap di backpacker hostel. Kuncinya sih tetap harus tekun membaca review demi kenyamanan bersama 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: