A Busker a Day Keeps You Happy All the Way

Setiap kali melintas di banyak tempat di pusat kota London saya sering terkejut dengan apa yang saya dengar. “Hei, apakah itu Chris Martin sedang menyanyikan Viva La Vida?” Di lain waktu saya hampir yakin saya mendengar Liam Gallagher melantunkan Wonderwall. Tergopoh-gopoh saya mencari sumber suara, ternyata saya belum seberuntung itu karena itu suara seorang busker yang sedang tampil, hahaha suaranya mirip banget! Di berbagai penjuru kota London, termasuk di tube station (stasiun kereta api bawah tanah), orang yang berlalu lalang bisa menikmati hiburan lewat penampilan para busker. Kata busker bisa diterjemahkan sebagai penampil jalanan, tidak terbatas hanya musisi tapi juga bisa penampil lain. Demikianlah busker ini menyajikan berbagai jenis pertunjukan seperti menyanyi, memainkan alat musik, bermain sulap, menari, menjadi patung hidup, dll.

Busking sebagai bentuk kata kerja dari busker, adalah bentuk kegiatan tampil di tempat umum dengan tujuan untuk menghibur (catat ya, untuk menghibur!) Sebagai imbalannya mereka menerima pemberian sedikit uang atau seridanya si pemberi sebagai bentuk rasa terima kasih karena merasa sudah terhibur. Seringkali penampil juga menerima imbalan dalam bentuk lain seperti makanan atau minuman. Bentuk kegiatan ini sudah eksis bahkan sejak zaman sebelum masehi di berbagai belahan dunia. Bagi sebagian orang, busking dilakukan juga untuk melatih kebolehan alias memperbanyak jam terbang.

Busker London dan Bandung

Sebetulnya tidak hanya di London, di kota-kota besar di Indonesia saya juga sering melihat busker. Karena saya tinggal di Bandung, yang pernah saya lihat di kota ini antara lain ada pengamen bermodal gitar tua, pemain biola, anak dan remaja bermodal kecrekan, penari topeng, sampai orang yang mengecat tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cat warna perak lalu berjoget. Oh Tuhan….apa pula ini? Di sini ada perbedaan yang sungguh saya sadari menusukkk sanubari. Di Bandung saya memberi uang atas dasar kasihan walaupun sebenarnya saya tidak menikmati pertunjukan itu. Malah kadang jujur saja, alasan memberi uang supaya cepat disudahi saja penampilan itu karena kok rasanya mengganggu yaaaa. Di London, beda ceritanya. Saya mengeluarkan beberapa koin dari dompet didasari rasa bersyukur merasa terhibur, merasa senang bisa tersenyum karena si busker membuat hari saya lebih cerah. Para busker di kota ini adalah penampil yang punya kualitas, tidak sembarang tampil.

Warisan Budaya

Busking di London dianggap sebagai aset budaya yang berharga dan oleh sebab itu diusahakan untuk tetap ada. Sudah ratusan tahun para busker ini ikut mewarnai London, terekat menjadi salah satu elemen budaya yang layak dipertahankan karena jalan-jalan di London adalah tempat talenta bertebaran. Betapa tidak, mereka selalu ada, rain or shine, di segala musim. Tanpa disadari mereka sudah menjadi soundtrack kehidupan banyak orang, memanjakan indera serta memperkaya rasa.

Busking Scheme

Supaya aktivitas busking ini lebih tertata rapi, di tahun 2015 wali kota London meluncurkan Busk in London, sebuah organisasi yang berperan untuk menjadi jembatan penghubung antara para buskers, pemilik gedung dan lahan, pemerintah dan berbagai dinas terkait lain agar aktivitas busking dapat berjalan dengan teratur. Mereka juga meluncurkan Buskers’ Code yang wajib dipahami setiap busker. Busker’s Code ini berisikan etika dan segala hal yang harus diketahui busker sehubungan dengan lokasi, peraturan, keamanan, tingkah laku, etika menerima uang, dll. Pada intinya, jangan sampai aktivitas busking ini dilakukan secara sembarangan.

Salah satu kesuksesan Busk in London adalah keterlibatannya dengan Transport for London untuk menyelenggarakan London Underground Busking Scheme. Melalui sistem ini, para busker diperbolehkan tampil di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah yang jelas adalah salah satu sumber keramaian orang berlalu lalang (3,5 juta orang per hari, wow!). Mereka yang berusia di atas 16 tahun boleh mendaftar untuk ikut audisi. Kalau lolos audisi di hadapan tim juri yang beranggotakan para ahli di bidang industri musik, mereka mendapat kartu izin dan boleh tampil. Mereka mendapat jatah busking 2 jam dan kalau tampil di stasiun-stasiun yang ramai, uang yang terkumpul bisa sampai £60 per jam!

From Busker to Chart-topper!

Selain busking scheme ini, Busk in London juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dengan tujuan menyediakan kesempatan bagi para busker menunjukkan talentanya dalam pertunjukan yang populer dikenal dengan sebutan gig. Ini adalah salah satu misi Busk in London dalam mendorong busker mengembangkan sayapnya menjadi penampil profesional. Jadi tidak heran kalau banyak chart-topper terkenal pernah jadi busker dulu sebelumnya, contohnya Ed Sheeran, Jessie J, Bob Geldof dan Glen Hansard.

As a busker, one thing that does not work is self-consciousness. A busker needs to be working. A busker needs to shed all ego and get down to work. Play your songs, play them well, earn your money and don’t get in people’s way. -Glen Hansard-

Is Busking Begging?

Apakah aktivitas busking sama saja dengan meminta-minta? Kalau melihat segala bentuk usaha dan totalitas yang harus ditempuh busker di London untuk bisa tampil, menurut saya sih beda banget. Para busker betul-betul harus berusaha memberikan pertunjukan yang bisa dinikmati. Kalau di Bandung, sebagian besar (walaupun mungkin tidak semua) tampaknya tujuannya hanya untuk mendapatkan uang, tidak lebih. Satu dua kali saya pernah juga sih, bertemu pengamen di Bandung yang punya suara bagus dan paling tidak lumayan bisa memainkan alat musiknya. Tapi catat ya, peristiwa ini adalah sesuatu yang bisa dikatakan once in a blue moon. Selebihnya lebih merupakan gangguan yang membuat makan jadi nggak selera, kemacetan jadi tambah menyiksa, dll.

Jadi itulah sebabnya mengapa para busker di London bisa membuat saya merasa terhibur sementara di Bandung hanya bisa membangkitkan rasa kasihan atau sebal kalau keterlaluan menyiksa pendengaran. Ujungnya kita memberi uang yang sebetulnya malah memperburuk keadaan, membuat mereka berpikir bisa hidup dengan memanfaatkan empati orang belaka. Seandainya saja bisa diterapkan kartu izin mengamen yang diterbitkan setelah melewati audisi, pasti banyak sekali suara lebih bermutu yang bisa dinikmati di jalan-jalan kota Bandung, yang bisa membuat kita tersenyum, bersiul, ikut menari dan hal kecil lain yang membuat hari terasa lebih ceriaaaaa. Di video clip lagu How Long Will I Love You ini ada adegan yang menampilkan busker di latar belakangnya, lafff sekali!!  🙂

 

Advertisements

2 thoughts on “A Busker a Day Keeps You Happy All the Way

Add yours

  1. Bener banget ya, busker2 di London itu canggih2 dan menghibur. Aku sampe bener2 berhenti buat nikmatin sebentar penampilan dari street performers itu sampai selesai. Anakku juga betah liatnya, nggak bikin bosen….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: