Posted in Random Thoughts

Joan of Arc dan Suara Tuhan

Saat keliling-keliling sebuah kota, apalagi sambil jalan kaki biasanya ada hal-hal yang membangkitkan rasa ingin tahu. Beberapa waktu lalu di Paris nggak sengaja lihat patung Joan of Arc. Pertama kali mendengar nama Joan of Arc adalah ketika nonton film tentangnya. Mungkin sekitar 25 tahun yang lalu deh. Aktris Mila Jovovich memerankan sosok pahlawan wanita yang jadi jadi inspirasi hingga saat ini, ratusan tahun setelah kematiannya. Karena melihat patung berwarna emas itu, jadi ingin mencari tahu lebih detil kisah Joan d’Arc. Yang  kuingat dari filmnya hanya gadis muda yang mengaku menyaksikan penampakan malaikat dan orang suci, mendapatkan wahyu untuk menyelamatkan Perancis dari kehancuran, serta mampu mendengar suara Tuhan yang menuntunnya untuk melakukan apa yang ia anggap sebagai misi hidupnya.

Membaca kisah Joan of Arc yang terjadi di awal tahun 1400, kita seperti diingatkan lagi akan kenyataan bahwa keadilan di dunia ini adalah sesuatu yang bisa dikompromikan. Apa kata dasar peng-adil-an? Adil?? Betul. Tapi pengadilan bukan rumah tempat keadilan bisa ditemukan. Di usianya yang baru 19 tahun, Joan dituduh menyebarkan ajaran sesat dan bahkan dianggap melakukan perbuatan amoral karena mengenakan pakaian laki-laki. Dia diadili oleh orang-orang yang mewakili gereja. Gereja yang sangat dicintainya, jadi bagian penting dalam hidupnya, yang rela dibelanya dengan nyawanya sendiri.

Tuduhan terhadap Joan of Arc tentu saja bermuatan politik karena sebetulnya banyak pihak yang merasa terancam dengan keberaniannya memimpin pasukan perang Perancis melawan Inggris dan Burgundia yang bersekutu untuk mengambil alih kerajaan Perancis, peristiwa yang dalam sejarah dikenal sebagai the Hundred Years’ War. Sosok Joan of Arc mampu memberi sokongan kekuatan moral para prajurit Perancis   dan membawa mereka merebut kemenangan di banyak medan pertempuran, membebaskan daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai Inggris. Perlahan, Perancis memiliki kepercayaan diri untuk mengangkat wajah yang sudah lama menunduk akibat rasa malu karena kekalahan demi kekalahan, tak berdaya melihat kejatuhan satu demi satu kotanya ke tangan musuh.

Berkat Joan of Arc, kota Reims berhasil dibebaskan, membuka jalan bagi Charles VII untuk dinobatkan menjadi raja Perancis di kota yang secara tradisi menjadi tempat penobatan raja-raja Perancis sejak abad ke-9. Dengan kata lain, Charles VII berhutang mahkota kepada gadis anak petani dari desa Domremy itu. Saat Joan ditangkap dan diadili pihak Inggris, apakah sang raja mau turun tangan membela atau bernegosiasi membebaskan sosok yang telah membuka jalan tahta kepadanya? Sejarah mencatat sikap Charles VII yang berpaling, tidak ingin dirinya disangkut pautkan dengan tuduhan penyebaran ajaran sesat yang dialamatkan kepada Joan. Terdengar familiar ya kelakuan kayak begini? Ya begitulah…

Seperti yang telah diduga, Joan diputus bersalah dan dihukum mati dengan cara diikat di tiang lalu dibakar hidup-hidup. Hukuman ala Inggris yang biasanya diberikan bagi mereka yang dituduh melakukan praktik sihir dan ajaran sesat. 10.000 orang jadi saksi kematian yang dijalaninya dengan kepala tegak, teguh dengan keyakinannya akan kehidupan yang telah direncanakan Tuhan untuknya.

20 tahun kemudian, Raja Charles VII memerintahkan dilangsungkannya pengadilan ulang atas kasus Joan. Ia kemudian diputus tidak bersalah, namanya dibersihkan. Apa yang memotivasi sang raja untuk melakukan hal ini? Mungkin dia nggak bisa tidur nyenyak lagi semenjak kematian sosok yang membawanya ke tahta dan mengangkat harkat dan martabat Perancis. Mungkin dia tak bisa melupakan hari saat gadis itu datang menemuinya, dan berkata ia diutus Tuhan untuk menyelamatkan Perancis dan membuka jalan ke Reims agar ia dapat dinobatkan menjadi raja. Tapi nampaknya pengadilan ulang ini dilakukan semata untuk menyelamatkan mahkotanya dan bukan untuk memperbaiki reputasi Joan of Arc. Ia ingin membunuh opini yang menyatakan bahwa gadis yang membantunya dinobatkan menjadi raja adalah penyebar ajaran sesat. Dengan membersihkan nama Joan of Arc maka tak akan ada yang bisa meragukan keabsahan tahtanya.

Joan of Arc dikenal sebagai salah satu wanita paling berpengaruh dalam sejarah. Keyakinannya yang teguh akan jalan hidupnya jadi inspirasi banyak orang terutama di Perancis, tempat dimana ia diangkat sebagai pahlawan nasional. Dia bisa saja menyelamatkan hidupnya dengan mengaku menyebarkan ajaran sesat tapi itu sama saja dengan mengingkari kehendak Tuhan atas dirinya dan atas hidupnya.

Lalu soal suara Tuhan. Sejujurnya sih aku nggak pernah mengartikan ‘suara Tuhan’ yang didengar Joan of Arc adalah suara Tuhan yang berbicara langsung kepadanya macam yang ditunjukkan di film. Suara Tuhan bisa aja kan interpretasi dari apa yang dilihat dan dirasakan di sekelilingnya, apalagi desa asal Joan of Arc memang desa yang loyal terhadap kepemerintahan Perancis. Nggak heran kalau dia terpanggil untuk menyelamatkan negaranya. Yang paling penting, mungkin kita harusnya selalu peka terhadap sekeliling kita karena dari situ kita bisa mendengar suara Tuhan, mendapat jawaban apa misi hidup kita sehingga akhirnya kita yakin kita ada di tempat yang tepat, melakukan apa yang memang sudah seharusnya kita lakukan. Mungkin begitu (kurang lebih)…Kok semuanya mungkin? Yaaah, namanya juga bukan bahasan ilmu pasti 🙂

 

Advertisements

Author:

I'm the universe in ecstatic motion.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s