Posted in Random Thoughts

Perkenalkan, Brodsky

Joseph Brodsky penyair dan penulis esei kelahiran kota Leningrad, Rusia. Sebagai seorang keturunan Yahudi, ia pernah mengalami kelaparan sampai hampir mati gara-gara peristiwa Siege of Leningrad (saat Jerman melakukan penyerangan dan menduduki kota). Semasa duduk di bangku sekolah, Brodsky dikenal anak yang nggak mau ikut aturan. Umur 15 tahun dia keluar sekolah dan mendaftar sekolah untuk awak kapal selam tapi gagal. Setelahnya berbagai profesi dijalaninya. Ia pernah bekerja jadi operator mesin penggilingan, di rumah jenazah memotong dan menjahit mayat, pernah juga kerja di rumah sakit, di ruang boiler kapal sampai ikut ekspedisi geologi. Dia banyak belajar sendiri termasuk belajar bahasa Polandia dan Inggris supaya bisa menerjemahkan puisi-puisi. Kemudian ia tertarik filsafat, agama, mitologi serta puisi Inggris dan Amerika. Karena isi puisinya yang dianggap anti Soviet, ia diusir dari Rusia di tahun 1972 dan menetap di Amerika. Ia mendapatkan Nobel Prize in Literature tahun 1987 karena karyanya yang dianggap mampu merangkul semua kalangan, diilhami kejernihan pemikiran dengan intensitas puitis.

Six Rules for Playing the Game of Life like a Winner sebetulnya adalah pidato yang diberikannya di tahun 1988 di hadapan ratusan lulusan University of Michigan. Sampai 10 tahun setelahnya, isi pidato ini nggak boleh dipublikasikan karena isinya dianggap terlalu provokatif. Tahun 1997 akhirnya dibuat juga transkripsinya, lalu diberi judul “Speech at the Stadium”.

Isi pidato ini nampar banget. Walaupun sudah hampir 30 tahun yang lalu disampaikan, isinya masih relevan dengan kondisi saat ini. Saya coba membuat ringkasan dan terjemahan bebas isi pidatonya sesuai dengan pemahaman sendiri soalnya rada jelimet maklum kalo filsuf kan gitu ya ngomongnya nggak pernah gampang dicerna. Sumber aslinya bisa dilihat disini.

#1. Penting banget memperkaya kosa kata (baca kamus!)

Saat ini dan nanti, gunakan bahasa dengan akurat karena itu berguna sekali. Cobalah membangun kosa kata dan memperlakukannya persis seperti kita memperlakukan pernyataan transaksi bank kita. Perhatikan baik-baik dan cari cara gimana supaya pemasukan bisa bertambah. Tujuan memperkaya kosa kata adalah supaya kita mampu menyuarakan diri kita sendiri sepenuh dan seakurat mungkin, dengan kata lain tujuannya adalah untuk keseimbangan. Akumulasi dari hal-hal yang tidak diutarakan atau tidak diartikulasikan dengan baik bisa mengakibatkan neurosis (sakit saraf a.k.a sakit jiwa). Setiap harinya banyak hal terjadi dalam jiwa seseorang tapi seringkali ekspresi orang itu sama aja (kebayang kan ada banyak yang terjadi tapi di permukaan kita cenderung memasang ekspresi wajah yang sama). Artikulasi tertinggal di belakang pengalaman. Hal ini nggak bagus untuk jiwa. Pendapat, nuansa, pemikiran, persepsi tak bernama, hal yang tak bisa disuarakan dan ketidakpuasan akan menumpuk dalam diri seseorang dan bisa berujung kepada ledakan psikologis (kata yang dipakai adalah explosion dan implosion, explosion artinya meledak ke luar sementara implosion meledak ke dalam. Dua-duanya nggak kedengeran bagus). Untuk menghindari hal ini kita nggak perlu jadi kutu buku. Kita hanya perlu membuka kamus dan membacanya setiap hari dan sesekali baca juga buku puisi. Namun kamus adalah kepentingan utama. Kamus dijual dimana-mana, bahkan kadang dijual sekalian dengan kaca pembesar. Kamus murah harganya dan yang harganya mahal karena berhadiah kaca pembesar juga masih jauh lebih murah daripada kunjungan ke psikiater. Kalaupun kita mau ke psikiater, mari kita pergi dengan gejala sebagai seorang pecandu kamus (huahahaha).

#2 Sayangi orang tua

Saat ini dan nanti, cobalah untuk menyayangi orang tua. Kalau buat kalian ini terdengar lebih seperti “hormati ayah ibumu” ya nggak apa-apa juga (mengacu kepada 10 Perintah Allah, perintah nomor 4). Saya hanya mencoba mengatakan jangan membangkang mereka karena kemungkinan besar mereka akan meninggalkan dunia ini lebih dulu daripada kamu. Dengan menyayangi mereka, kamu bisa terhindar dari sumber rasa bersalah nantinya. Kalaupun harus membangkang, lakukanlah kepada mereka yang nggak gampang terluka hatinya. Orang tua adalah target yang jaraknya terlalu dekat (dan ngomong-ngomong, saudara perempuan, laki-laki, istri dan suami juga); jaraknya terlalu dekat jadi nggak mungkin kan kamu luput. Membangkang kepada orang tua (biasanya sepaket dengan pernyataan anak kepada orang tua “aku tak akan butuh sepeserpun dari kalian”) pada dasarnya adalah hal yang borjuis banget karena si pembangkang dapat kenyamanan pamungkas: dalam hal ini kenyamanan mental: kenyamanan karena keyakinannya. Karena itu jangan membangkang karena semakin lama kita jadi orang yang skeptis, ragu dan tidak nyaman secara intelektual semakin bagus (jadi terlalu nyaman dengan keyakinan adalah hal yang ngga bagus? Kita harus selalu skeptis dan ragu tentang segala hal). Di sisi lain, membangkang masuk akal juga karena kita sudah bilang nggak akan minta sepeserpun uang orang tua sementara orang tua cenderung akan mewariskan semua harta kepada anak. Jadi pembangkang yang sukses akan berakhir dengan mendapatkan seluruh harta secara utuh, dengan kata lain, memberontak adalah cara menabung yang efisien. Tapi bunga tabungannya melumpuhkan; alias bikin bangkrut.

#3 Politikus nggak bisa dipercaya, lebih baik andalkan dapur sendiri

Jangan terlalu percaya politikus, jangan kebanyakan percaya karena mereka bodoh dan nggak jujur, walaupun itu sebenarnya karena ukuran pekerjaan mereka yang terlalu besar bahkan untuk politikus terbaik sekalipun, atau partai politik, doktrin, sistem atau blueprintnya. Yang bisa mereka lakukan, paling banter cuma mengurangi kejahatan sosial tapi nggak bisa juga memberantasnya. Nggak peduli sesubstansial apapun kemajuan, kalau kita berbicara menurut etika, itu selalu jadi nggak berarti karena pasti akan ada paling nggak satu orang saja yang tidak mendapatkan keuntungan dari kemajuan itu. Dunia ini tidak sempurna, Golden Age nggak pernah ada dan nggak akan pernah ada. Satu-satunya hal yang akan terjadi di dunia ini adalah ia akan jadi semakin besar, dalam arti populasinya karena ukurannya nggak akan bisa membesar juga. Seadil apapun orang yang kita pilih bilang akan membagi potongan kue, ukuran kuenya segitu-gitu aja, malahan porsinya akan jadi semakin kecil. Karena keterangan ini, atau kita katakan saja kegelapan ini, kita sebaiknya mengandalkan masakan rumahan kita sendiri, paling nggak apa yang bisa kita jangkau, yang berada didalam radius jangkauan kita. Tapi saat melakukan ini kita juga harus mempersiapkan diri saat kita sadar bahwa potongan kue kita nggak akan cukup; kita harus bersiap untuk makan dalam kekecewaan sekaligus dalam rasa syukur. Pelajaran paling sulit disini adalah untuk tetap stabil masak di dapur karena menyajikan kue ini sekali saja akan menciptakan banyak pengharapan. Tanya saja kepada diri sendiri apakah kita sanggup memenuhi suplai kue, atau lebih baik tawar menawar saja dengan politikus? Apapun hasil pergumulan jiwa ini –seberapa banyak kita pikir dunia ini bisa mengandalkan hasil masakan kita- kita akan mulai dengan keyakinan bahwa perusahaan, bank, sekolah, dan tempat apapun dimana kita akan bekerja, yang di dalamnya ada pemanas dan dijaga tim keamanan sepanjang hari, akan mengijinkan tunawisma untuk bermalam pada saat musim dingin.

#4 Biasa aja gak usah lebay

Gak usah berusaha untuk menonjol, cobalah untuk rendah hati alias biasa aja. Manusia sudah terlalu banyak dan akan jadi lebih banyak lagi. Jadi mendaki limelight (menjadi pusat perhatian) artinya mengorbankan orang lain yang tidak akan mendaki. Ketika kita harus memijak jari kaki seseorang bukan berarti kita harus berdiri di pundak mereka. Lagipula, apa yang akan kita lihat dari atas sana adalah lautan manusia, ditambah mereka yang seperti kita ini, mereka yang punya asumsi mereka udah jadi orang yang menonjol; mereka yang disebut kaya dan terkenal. Sebenernya, selalu ada sesuatu yang nggak enak tentang menjadi lebih baik dari yang kita suka. Ketika apa yang kita suka ada lebih banyak lagi, rasanya jadi tambah nggak enak. Tambahan lagi, orang kaya dan terkenal juga banyak, asal tahu aja, diatas sana juga udah penuh sesak. Jadi kalau kita mau jadi kaya atau terkenal atau keduanya, silakan tapi gak usah maksa. Mendambakan apa yang dimiliki orang lain sama dengan menghilangkan keunikan kita, alias bikin kita sama aja dengan hasil produksi masal. Tapi karena hidup cuma sekali, kita bisa melakukan satu hal yang masuk akal, yaitu menghindari cliché yang terlalu mencolok, termasuk istilah kalau kita adalah “limited editions”. Pemikiran tentang ekslusifitas, juga menghilangkan keunikan kita, dan juga bikin kita tidak menghargai apa yang sudah kita capai. Daripada jadi anggota klub, lebih baik kita berdesakan dengan mereka yang mewakili , paling tidak secara teoritis, potensi yang tidak terbatas. Coba untuk lebih menjadi seperti mereka daripada yang nggak seperti mereka; cobalah pakai warna abu-abu. Meniru (mimicry) adalah cara individu bertahan, bukan menyerah. Saran saya, kecilkan sedikit suaramu tapi pasti kalian pikir saya kelewatan. Tetap ingat ya, selalu ada seseorang di sebelahmu, tetangga. Nggak ada yang minta kamu untuk menyayangi dia tapi paling nggak cobalah untuk tidak menyakiti atau membuatnya nggak nyaman; coba bersikap dengan berhati-hati; dan jika kalian mendambakan istri tetangga kalian (ya ampyun pantesan aja dilarang dipublikasikan di jamannya), ingat bahwa hal ini adalah bukti kegagalan khayalanmu, mungkin kalian nggak percaya atau nggak tahu bahwa kenyataan memiliki potensi yang tak terbatas. Seandainyapun hal buruk ini terjadi (a.k.a mendambakan istri tetangga), ingatlah dari mana datangnya permintaan untuk tidak melakukannya (dari Tuhan?), dan juga gagasan untuk mencintai tetangga seperti kita mencintai diri kita sendiri. Mungkin bintang-bintang lebih tahu tentang gravitasi dan juga tentang rasa sepi daripada kita; coveting eyes that they are.

#5 Jangan pernah mau terima status jadi korban

Apapun yang terjadi jangan buat status dirimu jadi korban. Dari semua bagian tubuh, hati-hatilah dengan jari telunjuk karena ia paling haus akan rasa ingin menyalahkan. Jari yang menunjuk adalah logo korban, lawan dari tanda V dan sinonim menyerah. Seburuk apapun kondisi kita, coba untuk tidak menyalahkan sesuatu atau sesorang: sejarah, negara, atasan, ras, orang tua, fase bulan, masa kecil, toilet training, dll. Menunya banyak banget dan membosankan, saking banyak dan membosankan, itu saja sudah cukup ofensif untuk membuat orang dengan akal sehat  tidak ingin memilihnya. Pada momen kita menaruh ‘bersalah’ di suatu tempat, kita menghancurkan keputusan untuk mengubah apapun; bahkan bisa juga diargumentasikan bahwa jari yang haus menyalahkan itu terombang ambing dengan liar karena keputusan kita tidak pernah cukup kuat dari awalnya (maksudnya keputusan untuk tidak pernah mau menyandang status korban). Lagipula, status jadi korban ada rasa manisnya juga. Status ini menuntut rasa iba, pengistimewaan, dan seluruh bangsa dan benua berada dalam kegelapan diskon mental yang diiklankan sebagai suara hati korban (jadi korban ternyata godaan juga). Ada budaya-korban, mulai dari penasihat pribadi sampai pinjaman internasional (maksudnya kalau jadi debitur artinya jadi korban, jadi jangan mau gitu kali ya). Tujuan semua ini, hasil menurunkan pengharapan seseorang dari ambang batas, adalah untuk meraih keuntungan yang sebenarnya kecil tapi kemudian dianggap sebagai terobosan besar. Tentu saja ini seolah menolong atau menyembuhkan sehingga orang akan memilihnya, tapi sebisa mungkin cobalah untuk menolak. Walaupun kita dibombardir bukti-bukti bahwa kita di sisi yang kalah, tolaklah selama kita akal kita masih ada, selama mulut kita masih bisa mengucap, “tidak!” Intinya, cobalah untuk menghormati hidup bukan hanya karena kemudahannya, tapi karena kesulitannya juga. Keduanya adalah bagian dari permainan, dan sisi baik dari kesulitan adalah ia nggak pernah menipu (sulit ya sulit aja). Saat kita ada masalah, ada gesekan, di ambang keputusasaan atau mungkin sudah putus asa, ingat: hidup sedang berbicara dengan kita dalam bahasa yang dikuasainya dengan sangat baik. Dengan kata lain, coba deh untuk sedikit masokis: tanpa sedikit sentuhan masokisme, hidup nggak lengkap. Kalau ini bisa membantu, ingatlah bahwa martabat manusia adalah hal yang mutlak. Kalau menurutmu argumentasi ini rumit, paling nggak berpikirlah bahwa dengan menganggap diri kita korban artinya kita memperbesar kekosongan rasa tidak bertanggung jawab. Setan seneng banget mengisi kekosongan seperti ini, karena malaikat nggak suka kehendak yang lumpuh.

#6 Cuekin aja orang yang bikin hidup kita sengsara

Dunia yang akan kalian masuki, tempat dimana kalian akan eksis nggak bagus reputasinya. Geografisnya lebih bagus daripada sejarahnya; dan sampai sekarang masih jauh lebih menarik secara visual daripada secara sosial. Dunia ini bukan tempat yang menyenangkan, dan kalian akan segera tahu, dan saya ragu dunia ini akan menjadi lebih menyenangkan saat kalian meninggalkannya. Namun tetap, dia adalah satu-satunya dunia yang tersedia; kita nggak punya alternatif lain dan kalaupun ada alternatif, tidak menjamin juga akan jadi lebih baik daripada yang sekarang ini. Diluar sana adalah hutan belantara, padang pasir, lereng licin, rawa, dll, harfiahnya begitu tapi yang lebih buruk lagi secara metafor juga begitu. Tapi seperti kata Robert Frost, “Cara terbaik untuk keluar adalah dengan melaluinya.” Dia juga bilang, dalam puisi yang berbeda, “Menjadi sosial adalah menjadi pemaaf.” Saya ingin menyoroti beberapa catatan tentang bagaimana melaluinya. Nggak usah pedulikan mereka yang mencoba membuat hidupmu sengsara. Akan ada banyak orang seperti itu. Kalau kita nggak bisa melarikan diri dari orang seperti itu, jalani saja. Tapi saat kita sudah terbebas, gak usah pedulikan mereka lagi. Yang paling penting, gak usah bercerita tentang perlakuan tidak adil mereka terhadapmu; hindari walaupun ada orang yang mau mendengar. Cerita seperti ini membuat kita eksis sebagai antagonis, kemungkinan besar mereka akan menilai kita sebagai orang yang banyak omong dan menghubungkan pengalaman kita dengan pengalaman orang lain. Rasio satu banding satu nggak ada gunanya: yang penting adalah gemanya. Itu adalah prinsip utama penindas dimanapun juga, yang diangkat negara maupun yang mengangkat dirinya sendiri. Karena itu, curilah atau senyapkan gema itu sehingga kita tidak membiarkan sebuah peristiwa, seburuk atau sepenting apapun, makan waktu lebih lama daripada yang seharusnya.

Arti dan konsekuensi dari apa yang dilakukan musuh kita berasal dari reaksi kita. Karena itu, laluilah dengan cepat atau lewati saja seolah-olah mereka lampu kuning dan bukan lampu merah. Nggak usah berlama-lama dengan mereka baik secara mental atau verbal, jangan bangga karena memaafkan atau melupakan mereka, kalaupun seburuk-buruknya terjadi, lakukan ‘melupakan’ lebih dulu (maksudnya nggak usah melupakan atau memaafkan musuh, tapi lewatin aja anggep aja mereka ngga ada). Dengan begini sel otak kita nggak perlu dapat tekanan agitasi yang nggak penting. Ibaratnya, pindahin aja channel TV-nya: kita nggak bisa menghentikan siaran tapi paling tidak kita bisa menurunkan rating nya. Memang sih, solusi ini kemungkinan ngga akan bikin malaikat senang, tapi lagi, ini dilakukan untuk menyakiti setan dan untuk saat ini, itu yang penting.

Advertisements

Author:

I'm the universe in ecstatic motion.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s